Berdakwah Dengan Keindahan Al Qur’an
Sesungguhnya ajaran Islam diturunkan dimuka bumi salah satunya dapat memberikan solusi terbaik dalam mengatasi segala unsur permasalahan hidup, baik suatu masalah bersifat individual ataupun pada problema masyarakat sosial yang sangat luas, dari sekian banyak masalah internal keluarga hingga konflik dalam satu wilayah bangsa ataupun perpecahan antar negara akan dapat teratasi melalui sistim – sistim ajaran Islam, karena Islam dihadirkan tidak hanya menata aspek lahiriyah bathiniyah dalam hubungan teologis yang bersifat vertikal antara pemeluknya terhadap sang Kholiq saja, bahkan lebih dari itu Islam memiliki khasanah ilmu yang mengajarkan kepada pemeluknya dalam hubungan horisontal yakni antara sesama makhluq bernyawa ataupun hubungan terhadap benda mati yang wilayahnya mencakup secara menyeluruh,terpadu dan sangat luas tiada batas.
Ajaran Islam secara global salah satunya bersumber dari kitab suci Al Qur’an sebagai pedoman utama bagi para pemeluknya dalam menggali setiap kebenaran ataupun untuk mementahkan semua unsur kebathilalan yang dapat diterapkan teorinya pada rutinitas hidup. Sungguh Al Qur’an adalah kitab suci, yang dipilih namanya oleh Allah swt sebagai kitab Al – Karim (mulia lagi sempurna), betapa tidak ?, bukti yang nyata tentang kemuliaan dan kesempurnaan Al Qur’an yang turun sejak 14 abad yang silam hingga detik ini di dalam muatan ayat tersurat maupun tersirat selalu memberikan kesan yang baik bagi mereka yang mempelajarinya ataupun bagi mereka yang gemar mendengarkan lantunan ayat – ayatnya yang sarat nuansa spiritualis, hingga ratusan juta manusia dari generasi ke generasi tidak pernah bosan menguak tabir rahasia kemuliaan Al Qur’an yang ditranslit artinya dalam berbagai bahasa diseluruh penjuru bumi, sekalipun mereka tidak mengenal maksud huruf serta arti dari kandungan ayat – ayatnya tetap saja Al Qur’an dipelajari serta di baca dengan setia di bumi ini oleh pemeluk Islam dari usia dini, remaja, dewasa hingga para usia lanjut dari masa ke masa demi meraih dimensi kekuatan cahaya Al Qur’an yang selama ini terbukti sangat dahsyat manfaatnya sehingga berefek positif dalam mengarungi kehidupan ini.
Tiada satupun bacaan dimuka bumi dapat menandingi kekayaan bahasa Al-Quran, yang memiliki 77.439 (tujuh puluh tujuh ribu empat ratus tiga puluh sembilan) kosakata, dan memiliki 323.015 (tiga ratus dua puluh tiga ribu lima belas) huruf. Sungguh, tiada susunan bahasa seindah bacaan Al Qur’an, dimana didalam lafadz – lafadz Suci Al Qur’an tertata secara rapi dan jelas sekali cara - cara membacanya (mana lafadz yang harus dipanjangkan, mana bacaan yang harus dipendekkan atau lafadz yang dipertebal ataupun diperhalus, bahkan ada bacaan yang harus disamarkan dan ada pula bacaan yang wajib dihentakkan, dimana harus berhenti dan dimana harus memulai melafadzkan kembali, hingga dimana tempat yang dilarang melafadzkan sampai dimana wilayah yang baik untuk mengumandangkannya) sungguh luar biasa dan benar – benar menakjubkan. Bahkan sekalipun seluruh antariksa dilebur jadi satu untuk di jadikan tinta maka tidak akan cukup dapat memaknai keajaiban ilmu dan hikmah dari kitab suci Al Qur’an yang Al Karim.
Tidak ada satupun alasan yang tepat bagi penghuni bumi membenci atau merendahkan derajat kitab suci Al Qur’an yang Al Karim, sebagaimana komentar seorang tokoh orientalis H.A.R. Gibb dalam bukunya tertulis: "Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan 'alat' bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca (Nabi) Muhammad (Al-Quran). Demikian terpadu dalam Al-Quran keindahan bahasa, ketelitian, dan keseimbangannya, dengan kedalaman makna, kekayaan dan kebenarannya, serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan yang ditimbulkannya”. Dan bila saja pada masa sekarang terjadi oknum – oknum tertentu mendustai hingga menjatuhkan martabat kemuliaan Al Qur’an kesemuanya itu terjadi lantaran para pembawa misi Al Qur’an bisa jadi kurang cakap dalam mengaplikasikan dakwahnya pada masyarakat pluralis.
Adalah seruan yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam apabila para pendakwah tidak lagi mencerminkan keindahan cahaya Al Qur’an yang didalamnya memuat ajaran melindungi yang lemah, mengasihi yang fakir, rukun dalam bermasyarakat, saling mengayomi, saling menyayangi, saling mencintai, serta saling menghormati kepada siapapun juga dalam segala bentuk perbedaan ras dan budaya, ataupun dalam perbedaan agama. Perkara tersebut adalah seruan Al Qur’an yang sewajibnya para mukmin yang berdakwah memegang teguh seruan itu demi terwujudnya misi ajaran Islam yang benar – benar Rahmatan lil alamin.
Sekali lagi kemuliaan Al Qur’an tidak mengajarkan membunuh, merusak, menganiaya, menghujat, menyakiti atau berbuat apapun yang menyalahi norma – norma kehidupan tentu apabila terjadi peristiwa buruk tersebut kesemuanya itu sangatlah bersebrangan dengan Al Qur’an. Setiap manusia memiliki hak pribadi menerima Islam atau tidak beriman kepada Islam karena persoalan iman atau tidaknya manusia bersifat Habluminaalloh (hubungan individu manusia kepada Allah swt), tentu tugas sebagai pendakwah sebatas menyeru dan mencegah, yang berarti tidak boleh memaksa atau memerangi melalui perilaku anarkhis.
Fahamilah seruan Al Qur’an dalam surat Al – Ashr [103] : 3, tentang kedudukan kalimah “Wa tawashau bil haq”. Hendaknya setiap pendakwah haruslah tawashau yakni saling berpesan atau saling mengajarkan ilmu sehingga dapat mebuahkan al-haq (kebenaran) yang bermanfaat. Bukan sebaliknya malah saling menyerang atau memaksakan kehendak demi menuruti perintah nafsu syetan. Yang semestinya para pendakwah dapat memahami seruan tersebut dengan arif dan bijaksana.
Maka, apabila berdakwah tanpa cahaya Al Qur’an akan berbuah kesesatan, berjihad tanpa akhlaq akan menghasilkan kerusakan, berpikir tanpa berdzikir menjadikan manusia seperti syetan, berakal namun tidak bernaluri bagaikan robot, sedangkan Ilmu tanpa Iman bagaikan mutiara ditangan pencuri, sedang Iman tanpa Ilmu ibarat mahkota diatas kepala penjahat, dan jangan sampai hal tersebut terjadi. Semoga ada Hikmah
Habib Muhammad Asyhari bin Masrukhan bin Rusdy Abdullah Al Adzomat Khon
Pengasuh Majelis Babul Ma’rifah
Sukoharjo – Jawa Tengah